your code goes here
CK IKLAN ID1
LOKASI IKLAN 1

Kontruksi Identitas Manusia Papua


KONTRUKSI IDENTITAS MANUSIA PAPUA
Kontruksi Kepapuan dan Nasionalisme Orang Papua dalam Bingkai NKRI



pictures, hcamag.com

         
Oleh : Fransiskus M. Iyai

      Manusia merupakan Makhluk sosial, mereka membutuhkan orang lain. Sejak manusia dilahirkan di dunia, sesungguhnya ia telah belajar dan berkenalan dengan hubungan-hubungan sosial. Hubungan sosial manusia mengacu pada hubungan antar individu, antar masyarakat, dan individu dengan masyarakat. Hubungan sosial dimulai dari hubungan antara anak dengan orang tua kemudian meluas hingga ketetangga. Dalam hubungan sosial tersebut terjadilah proses pengenalan dan proses pengenalan tersebut mencakup berbagai budaya, nilai, norma dan tanggung jawab manusia, sehingga dapat tercipta corak kehidupan masyarakat yang berbeda-beda dengan masalah yang berbeda pula.

            Dalam proses kehidupan sehari-sehari, baik sadar maupun tidak, dalam kebersaman antara kelompok maupun golongan dalam suatu budaya,adat dan tradisi,  manusia menjalankan kehidupan searah/sesuai dengan nilai atau norma yang menjadi koridor bagi masyarakat tertentu. Sehingga  itulah yang akan membentuk identitas bagi kaum atau suatu masyarakat tertentu yang akhirnya menjadi pembeda satu etnis dan etnis lainnya.

            Sebelum memasuki inti pembahasan, saya ingin mendefiniskan terlebih dahulu  apa itu kontruksi dan apa itu identitas. Kontruksi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keempat, konstruksi adalah susunan dan hubungan kata dalam kalimat atau kelompok kata. Makna suatu kata ditentukan oleh kostruksi dalam kalimat atau kelompok kata. Kata konstruksi ini dalam kenyataannya adalah konsep yang cukup sulit untuk dipahami dan disepakati.  kata konstruksi mempunyai beragam interpretasi, tidak dapat didefinisikan secara tunggal, dan sangat tergantung pada konteksnya. Sedangkan identitas (identity) secara datarnya adalah (suatu kegiatan membangun sarana maupun prasarana) jadi secara etimologi dapat disimpulakan bahwa kontruksi identitas adalah suatu usaha,kegiatan atau proses yang berlansung dalam suatu hubungan antara satu komponen dan komponen lainnya.

            Pengertian Identitas sendiri menurut Chirs Barker adalah soal kesamaan dan Perbedaan tentang aspek personal dan sosial, tentang kesamaan individu dengan sejumlah orang dan apa yang membedakan individu dengan orang lain.

            Jika dilihat dari bentuknya, Setidaknya ada tiga bentuk identitas, yakni Identitas Budaya, merupakan ciri yang mencul karena seseorang itu merupakan anggota dari sebuah etnik tertentu yang meliputi aspek pembelajaran tentang penerimaan tradisi, sifat bawaan,adat istiadat,agama, dan keturunan dari suatu kebudayaan. dan juga Identitas Pribadi yang mana didasarkan pada keunikan karakteristik pribadi seseorang.Seperti karakter, kemapuan, bakat, dan pilihan. Atau semua yang menjadi keunikan atau pribadi dari diri seseorang. Serta ada juga Identitas Sosial yang mana Identitas sosial ini terbentuk  akibat dari keanggotaan seseorang itu dalam suatu kelompok kebudayaan. Tipe kelompok itu antara lain, umur, gender, kerja, agama, kelas sosial, dan tempat. intinya  identitas sosial merupakan identitas yang diperoleh melalui proses pencarian dan pendidikan dalam jangka waktu lama.
            Pembentukan identitas individu, suatu masyarakat atau golongan, dipengaruhi oleh dua narasi yang paling dominan dalam  pebentukan identas yakni faktor interal (berhubungan dengan konsep diri atau self consept) dan faktor  eksternal (relasi dengan orang lain). Faktor eksternal inilah yang kemudian sangat dominan pengaruhnya terhadap pembentukan identitas manusia. Karena pada hakikatnya identitas adalah suatu yang tidak dibawa sejak lahir. Artinya kita memiliki identitas setelah sudah tergabung didalam suatu kelompok masyarakat ataupun kelas sosial dan yang lainnya. Sederhananya identitas itu tidak absolut namun dinamis yang artinya dapat berubah-ubah (dapat di Rekontruksi)

***************************************************************************

            Jika kita balik lagi kedalam konteks Papua, Papua adalah pulau yang dihuni kurang lebih 250 suku (yang terdata) dengan berbagai perbedaan dialektika, linguistik, adat-Istiadat serta budaya masing-masing yang unik. Bukan enitas tunggal. Artinya Pulau Papua adalah suatu Tempat yang telah lama dihuni oleh manusia papua sejak dunia dijadikan. sebelum di Aneksasi kedalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

            Kesadaran akan Kepapuaan atau Rasa Naionalisme Orang Papua didalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Sudah muncul sejak lama. bahwa manusia Papua berbeda dengan Indonesia baik dari segi Fisik maupun Ideologi Kehidupannya sehingga kesadaran akan suatu Bangsa yang ingin Membentuk dan Menunjukan Identitas sebagai orang Papua sudah lama tertanam dalam  lubuk hati manusia Papua. namun, Narasi itu baru berkembang atau Muncul di Permukaan  semenjak dekade empatpuluhan yang dirintis dan dipelopori oleh kalangan elite terdidik yang merupakan lulusan Sekolah Pamong Praja milik Pemerintah Belanda.

            Identitas Manusia Papua dalam bingkai NKRI Mulai dikontruksi oleh Faktor Eksternal yakni dalam hal ini adalah Negara dengan segalah Program Pembangunan dan Pendekatan yang dalam kasus ini adalah Transmigrasi, Pemekaran Kota, Pendekatan Militeristik, Serta Pendekatan Infrastruktur.

Transmigrasi

            Program Transmigrasi yang dimulai  Lima tahun  sebelum dilaksanakannya Pepera (1969). Dengan berbagai Model pola-pola transmigrasi antaralain, Pola Tanaman Pangan, Pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR), Pola Transmigrasi Bhineka Tunggal Ika (Bhintuka), Pola Nelayan (Trans Nelayan), dan Masih banyak lagi. Pada intinya  Negara Melancarkan  arus Transmigrasi ini dengan Tujuan agar manusia Papua dapat Berbaur dengan Masyarakat Luar. Karena Selama ini Indonesia Menganggap Manusia Papua sebagai suatu Objek.baik dari segi Ekonomi, Sosial, Politik dan Lain sebagainya. Terlepas dari itu juga karena anggapan orang Indonesia terhadap orang papua adalah suka mabuk, susah diajak untuk berbaur, kotor, jorok, bodok dan stigma-stigma lain yang notabenenya selalu memojokan orang papua serta merendahkan harkat dan martabat orang Papua. Selain itu, dengan arus transmigrasi ini secara sistematis dan dengan perlahan orang papua Memiliki angka harapan hidup yang tidak stabil  (rendah) tau dibawa rata-rata.  dalam arti seluruh  Pelosok Bumi Cendrawasih dipenuhi dengan orang-orang non Papua (transmigrasi) dengan demikian, manusia papua lama kelamaan terpojok ( jadi asing) diatas tanahnya sendiri. Sebagai contoh di Nabire hampir seperempat tanah dikuasai oleh orang  pendatang dengan berbagai kepentingan mulai dari Investor, Pengusaha, Perusahaan dan tansmigran biasa yang semakin lama semakin banyak. di sepanjang ujung perkotaan Nabire seperti di Yaro, Wanggar, Wami, Sp dan lain sebagainya semuanya dipenuhi oleh orang-orang Pendatang (non Papua). Yang lebih ekstrem lagi, setelah satu bulan mereka menetap disana, mereka membuat surat sertifikat tanah, izn usaha dan lain sebagainya dalam waktu yang singkat ketimbang orang asli papua yang mengurus sertifikat tanah bisa sampai berbulan-bulan bahkan tahun untuk mengurus surat tersebut.

Pemekaran Kabupaten/Kota

            Selain Transmigrasi, salah satu unsur Pengaruh dalam Pembentukan identitas Manusia Papua adalah Pemekaran kabupaten dan kota yang secara cepat dilakukan oleh Negara Indonesia dengan alasan Pulau Papua adalah tempat yang rawan, penuh mistis, serta Tertinggal. Maka dengan Program Pembanguna dan Pemekaran Kabuten/kota menjadi alasan bagi  indonesia untuk tetap mempertahankan hegemoninya dengan cara pemekaran-pemekaran tersebut agar manusia papua ikut merasakan dampak dari Pembangunan itu sendiri serta agar Orang Papua juga merasa  termasuk sebagai bagian dari orang indonesia, ikut merasakan perubahan arus moderen. Salah satu cotoh konkritnya dari dampak pemekaran Kabupaten/kota Terhadap Budaya adalah pada akhir tahun 70an di wamena dimana Masyarakat dipaksa untuk meninggalkan  Nilai-Nlai tradisional Mereka dan mengadaptasi cara hidup modern dengan memaksa memakai baju dan meninggalkan koteka, ini merupaka salah satu contoh paling kongkrit dari sebuah pemaksaan tanpa tujuan yang bermuara pada penghinaan identitas masyarakat lokal. disini, manusia Papua dihadapkan pada salah satu pilihan antara ikut terbawa arus modernisasi yang dilakukan oleh negara dengan politik penyeragaman dari berbagai sendi kehidupan orang papua atau tetap mempertahankan harkat dan martabat orang papua sebagai manusia yang ideal dan memiliki filosofi hidup mengatur diri sendiri dengan tetap mempertahankan segala  adat istiadat, nilai-nilai serta budaya Papua yang sudah diwariskan sejak lama dari moyang orang Papua dan menjadi jatidiri orang Papua.


Pendekatan Militeristik

            Selama Masa Pemerintahan  Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto,  Masyarakat Papua di konstruksi identitasnya  dengan konsep militeristik yang dijalankan secara sistematis oleh ABRI. Pada periode ini, Masyarakat Papua Praktis tidak diberi ruang dan peluang untuk mengkonstruksikan sendiri identitasnya berdasarkan fondasi sosio-kulturalnya. Dengan pendekatan militeristik itu, Manusia Papua dibayang bayangi kepunahan etnis secara massal maupun individual baik secara mental maupun karakter manusia papua dibungkam. Pada masa ini militer di depankan dan Operasi dilancarkan demi meredam aspirasi bangsa Papua dengan melakukan berbagai Operasi Militer dimana manusia papua menjadi objek operasi militer itu sendiri. Selama Orde Baru, sejumla operasi yang dilakukan adalah operasi sadar(1965-1967), Operasi Bharatayudha (1967-1969), Operasi Wibawa (1969), Operasi Militer di Kabupaten Jayawijaya (1977), Operasi Sapu Bersih I dan II (1981), Operasi galang I dan II (1982), Operasi Tumpas (1983-1984) dan Operasi Sapu Bersih (1985) dan masih Banyak lagi, Pada Intinya Banyak Masyarakat Papua yang jadi korban akibat sejumlah operasi tersebut yang akirnya meninggalkan Luka ingatan Bagi Manusia Papua dan sangat berdampak Bagi Pembentukan Identitas Manusia Papua.

            Bersamaan dengan itu, Papua menjadi wilayah yang terbuka bagi masuknya  berbagai aktivitas baik ekonomi, politik, maupun sosial-budaya yang dibawa oleh arus modernisasi. Sehingga dengan mudahnya arus modernisasi dan pengaruh dari dunia luar papua masuk dengan cepat dan memberikan dampak yang sangan signifikan bagi pembentukan identitas manusia papua. Persinggungan dengan dunia luar membuat masyarakat Papua berelasi dengan berbagai budaya dan kepentingan lain yang terus melakukan interaksi secara intens. Persoalan identitas pun kemudian muncul, dalam arti bagaimana orang Papua harus mengkonstruksikan identitasnya tetap merujuk pada nilai-nilai dan budaya lama atau harus menyesuaikan dengan nilai-nilai dan konstruksi budaya baru yang dibawa oleh arus modernisasi serta melalui Pendekatan Militeristik yang Sistematis,Terencana dan Masif. Sehingga Pendekatan Militeristik yang dilakukan sejak awal orde baru Membuat penderitaan bagi masyarakat papua, hingga era reformasi, Pendekatan Militeristik ini masih dilakukan dengan cara memberlakukan Daerah Operasi Militer (DOM) dengan Demikian orang Papua diatur sesuai apel pusat atau Bias Pusat serta dengan segala pendekatan Tersebut Meninggalkan Luka ingatan atau Ingatan Penderitaan (Memoria Passionis.) bagi Manusia Papua.

            Papua bila diletakan dalam konteks Indonesia dan dilihat dari Geografisnya adalah pulau yang terletak di ujung Timur Indonesia. disini kemudia terjadi bagaimana kontruksi papua oleh pusat berada dalam posisi yang dipandang sebagai daerah pinggiran. mula-mula cara pandang pusat memang secara teritori tetapi kemudian juga secara politik dan kebudayaan. oleh karena itu papua mengalami marginalisasi baik secara politik maupun secara kebudayaan. karakter relasi kuasa seperti itu kemudia membentuk identitas orang papua,yait ketika kesadaran ereka beada dalam posisi orang marginal, orang pinggiran. dalam kondidsi seagai orang pinggiran itulah kemudian orang papua mengkontruksi identitasnya . pada umumnya orang tak pernah mempertanyakan bahwa bagaimana proses terbentuknya kesadaran itu, yang sebenarnya kesadaran yang dibentuk, sebuah kesadaran dikontruksi oleh pihak luar (eksternal) dan ketika melakukan komunikasi interpersonal (antar pribadi) maka terjadilah proses konsensus bahwa kami orang papua memang seperti yang dikontruksi oleh pihak luar (eksternal) itu. Artinya bahwa Identitas Manusia papua dibentuk oleh segala pendekatan yang dilakukan oleh Negara sehingga Manusia Papua secara Tidak sadar identitasnya dikontruksi sesuai keinginan negara secara tsistematis, dan terencana.


Pendekatan Pembangunan (Infrastruktur)

            Indonesia Berpandangan Bahwa Perkembangan masyarakat menuju Kesejahteraan akan diperoleh apabila melalui tahapan-tahapan dari Masyarakat yang Primitif, ke Masyarakat pertanian, Masyarakat Industri hingga sampai pada Masyarakat Informasi. maka dicanangkalah proses pembangunan jangka panjang yang populer dengan sebutan Repelita, satu hingga lima. dimana masyarakat Indonesia pada pada pelita kelima ini sudah tinggal landas. implikasi dariberkembangnya cara berpikir yang dipengaruhi oleh teori modernisasi itu, maka posisi orang papua oleh pemerintah dianggap masih berada pada tahap masyarakat pertanian, bahkan sebagian masuk dalam kategori masyarakat Primitif. dari sinilah kemuadia pemerintah pusat yang sedang terobsesi pada modernisasi mulai mengkontruksi identitas Manusia Papua dengan melancarkan berbagai program Percepatan Pembangunan. dasar utama yang dipakai oleh pemertintah pusat untuk mengkontruksi Manusia Papua adalah tetap Kecurigaan. dimata orang papua yang kritis selama ini pemerintah tidak mempercayai orang papua.hal ini tampak dalam wujud kecurigaan pemerintah yang berlebian terhadap orang papua. sekalipun sekarang sudah 56 tahun Papua dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Pemerintah selalu memberlakukan orang Papua bukan sebagai warga negara Indonesia Yang patut dilindungi keberadaannya, tetapi sebagai separatis yang mesti diwaspadai dan di basmikan demi Tegaknya Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu, negara tidak enggap mengeluarkan dana yang amat besar untuk membiayai TNI,Polri, Brimob dan Satuan Bersenjata Linnya Agar mnusia Papua dibasmi dengan Kedok  pengejaran,  penangkapan, serta Pembunuhan Terhadap Separatis.

            Maka dicanangkannyalah proses pembangunan jangka panjang yang populer dengan Sebutan Repelita, satu hingga lima di mana masyarakat Indonesia pada Pelita kelima itu sudah tinggal landas. Implikasi dari berkembangnya cara berpikir yang dipengaruhi oleh teori modernisasi itu, maka posisi masyarakat Papua oleh pemerintah dianggap masih berada pada tahap masyarakat pertanian dan bahkan sebagian masuk dalam kategori masyarakat Primitif. dari sinilah kemudian pemerintah pusat yang sedang terobsesi pada modernisasi mulai Mengkonstruksi identitas orang Papua dengan melancarkan Berbagai Program Percepatan Pembangunan. Dasar utama yang dipakai oleh pemerintah pusat untuk mengkonstruksi orang Papua adalah tetap kecurigaan. Di mata orang Papua yang kritis selama ini pemerintah tidak mempercayai orang Papua. Hal ini tampak dalam wujud kecurigaan pemerintah yang berlebihan terhadap orang Papua. Sekalipun sudah 56 Tahun bergabung dalam Republik Indonesia, pemerintah terkesan memberlakukan orang Papua bukan sebagai warga negara yang patut dilindungi keberadaannya, tetapi separatis yang mesti diwaspadai demi tegaknya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena itu, pemerintah membiayai TNI untuk melakukan serangkaian operasi militer guna membasmi separatis yang notabenenya adalah orang Papua.
            Dalam keadaan seperti ini, manusia papua sudah mulai gelisah mencari identitas diri mereka dengan mempertanyakan apakah kami manusia berambut keriting dan berkulit hitam adalah suatu etnis yang memang berbeda dengan indonesia atau termasuk bangsa melayu.? Berangkat dari pertanyaan diatas, ada beberapa kelopok ataupun golongan yang memilih untuk menyatakan harkat dan martabat orang papua sebagai manusia yang memiliki jati diri yang unik serta pantas untuk diperjuangkan dari segala penindasan. Kelompok inilah yang benar-benar menyadari bahwa kami manusia papua dijadikan sebagai objek semata diatas tanah kami sendiri, menjadi pendatang diatas rumah kami sendiri, semakin hari kami manusia papua menjadi minoritas, kami tidak dianggap manusia lagi. Selain kelompok tadi, ada juga kelompok atau golongan yang menjadi alat atau instrumen bagi mereka yang berkuasa hingga akhirnya mereka jadi gema atau alaram bagi manusia papua lainnya untuk apel sesuai dengan arahan dari penguasa. Kelompok inilah yang menjadi drakula bagi manusia papua lain, mereka tidak pernah menyadari bahwa koridor yang mereka gunakan adalah koridor pasrah atau menunduk pada kekuasaan. Kelompok atau Golongan ini adalah Mereka yang Notabenenya adalah Penguasa Daerah (Pejabat Negara) Pejabat Lokal, Pemuka Agama. Kelompok Inilah yang hidup bagai Parasit di tengah Masyarakat Papua yang Mencoba Meredam dan Mengalihkan Aspirasi Masyarakat Papua yang Berjuang Mempertahankan Identitas Manusia papua. Narasi  paling ampuh yang selalu digunakan Dari kaum ini adalah Bahwa kita mesti Bersyukur dengan apa yang sudh diberikan oleh negara kepada kita, kita Musti Pasrah Akan keadaan seperti Ini karena Inilah Nasib dan takdir Tuhan terhadap kita Manusia Papua.


Lalu Bagaimana Manusia Papua Kedepannya.?

            Melihat Berbagai gejolak yang sudah dan sedang terjadi di papua, pertanyaan yang tepat yang musti di lontarkan adalah Bagaimana dengan Nasib Manusia Papua kedepannya.? Maka jawaban singkat yang tepat juga adalah Perlunya Kesadaran dan Rekontruksi identitas Manusia Papua sesuai dengan Konteks Papua, dalam Arti Manusia Papua harus Merekontruksi Identitasnya sendiri tanpa tekanan dan melibatkan Pihak Luar (eksternal) kenapa demikian.? Karena ada dua Faktor yaitu Pertama Filosofi Hidup Manusia Papua adalah Mengatur dirinya sendiri yang Kedua adalah Bila indonesia Mengkalim menjujung tinggi Bhineka Tunggal Ika maka sepatutnya Manusia papua harus menjadi dirinya sendiri. Bukan lagi sebagai penurut perintah pusat (Negara). Arti kebinekaan hilang dalam Penyeragaman dari Sabang Sampai Merauke. Maka Tanggung Jawab Penuh dari pada Generasi Muda Papua yang sadar Akan hal-hal semacam ini adalah Menjadi Pionir bagi Perubahan Manusia Papua, Generasi Muda sekarang Harus sadar akan sistem yang sedang berkuasa di tengah masyarakat Papua. Generasi Muda punya Tanggung Jawab Penuh atas Arah Manusia papua kedepannya. Maka, Menurut Saya sebaiknya ada beberapa yang yang musti disadari dan dilakukan bersama guna Mempertahankan identitas Manusia Papua dan menumbuhkan Nasionalisme Orang papua adalah: Pertama Generasi Muda Papua harus sadar, bangkit dan bersatu membasmi segala virus  program dan cara yang sudah menjalar kedalam sendi-sendi kehidupan manusia papua dengan cara Critikal Thingking terhadap situasi dan comunicate dengan segala organ pergerakan, serta colaborate dengan segala elemen Masyarakat papua guna melekatkan satu tujuan satu tekad (one soul one People). Kedua membuka pemahaman dan lapangan pengetahuan bagi generasi manusia Papua dengan cara memperbanyak penyadaran, membuka lapak buku sejarah Papua, Memberi asupan Pengetahuan akan papua sejak usia dini, memberlakukan Pelajaran Muatan lokal berbasis konteks daerah di sekolah seluruh Papua. Ketiga Perlunya manajemen pengelolaan dana, maupun materil dari pemerintahan untuk pembangunan Sumber daya Manusia Papua yang terlepas dari Korupsi,Kolusi,dan Nepotisme (KKN) namun jujur,adil,dan setara serta sesuai konteks Kedaerahan Papua sehingga Identitas Manusia Papua kedepan tidak lagi dikontruksi oleh Manusia Pusat (negara) Namun Manusia Papua Mengkontruksi Identitasnya sendiri sebagai Manusia yang Berharga diatas tanahnya sendiri serta Mewujudkan Manusia Yang Bermoral dan Bermartabat.





TerlamaLebih baru
CK IKLAN ID3
LOKASI IKLAN 3
Cari Artikel